ariefwibowo.net, Tangerang, (17/07) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Benda yang telah diresmikan pada Februari 2025 ternyata masih menyimpan sejumlah persoalan mendasar yang menghambat operasional pelayanan kesehatan. Temuan ini terungkap dalam inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Wakil Ketua II DPRD Kota Tangerang, Arief Wibowo, bersama jajaran Komisi II DPRD, Kamis (17/7).

Sidak dilakukan sebagai bentuk respon atas berbagai laporan masyarakat dan internal rumah sakit mengenai belum optimalnya pelayanan di RSUD Benda, terutama terkait infrastruktur dan kesiapan sumber daya manusia.
“Kami menemukan bahwa banyak fasilitas dasar yang belum siap. Ini tentu mengecewakan mengingat rumah sakit ini sudah diresmikan dan diharapkan segera bisa melayani masyarakat,” ujar Arief.
Salah satu temuan paling krusial adalah belum dilakukannya uji fungsi sistem pemadam kebakaran atau hidran. Padahal, aspek ini sangat vital dalam memastikan kesiapan menghadapi kondisi darurat.
Selain itu, kondisi panel listrik utama disebut sangat membahayakan karena berada terlalu dekat dengan saluran air yang bocor. Potensi korsleting dan kebakaran menjadi risiko nyata jika hal ini tidak segera ditangani.
Kenyamanan pasien juga menjadi korban dari berbagai kekurangan sarana. Beberapa ruang tidak dapat digunakan secara maksimal akibat pendingin udara yang bocor, menimbulkan rembesan pada plafon dan memaksa petugas mematikan AC.
Tak hanya itu, ruang operasi dan ruang hemodialisa (cuci darah) juga belum dapat difungsikan karena atap yang masih bocor, meskipun alat-alat medis sudah tersedia.
Di ruang penyimpanan obat dan peralatan medis, Arief menemukan ruang yang sangat terbatas dan belum layak untuk mendukung kebutuhan pelayanan rumah sakit. Bahkan, tidak tersedia ruang pertemuan yang cukup bagi sekitar 100 pegawai untuk koordinasi harian.
“Hal-hal mendasar seperti ini semestinya sudah terpenuhi jauh sebelum rumah sakit diresmikan,” tambahnya.
Dalam aspek SDM, sebagian besar tenaga kesehatan di RSUD Benda masih merupakan tenaga alih dari RSUD lain. Menurut Arief, keberadaan dokter spesialis anak harus menjadi prioritas, mengingat pentingnya penanganan stunting di sekitar wilayah Benda, Batuceper, dan Neglasari.
“Dengan hadirnya poli anak, RSUD Benda bisa menjadi garda terdepan dalam penanganan stunting, terutama di wilayah sekitar Bandara,” tegasnya.
Melihat banyaknya permasalahan, Arief mendorong Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) serta pihak manajemen RSUD untuk segera melakukan perbaikan menyeluruh.
Tak hanya itu, ia juga menargetkan RSUD Benda untuk naik kelas dari tipe D ke tipe C, dan RSUD Modernland naik dari tipe C ke tipe B.
“Kami ingin Kota Tangerang memiliki layanan kesehatan yang benar-benar memadai, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Ini juga bagian dari pembuktian komitmen pemerintah terhadap masyarakat,” ujarnya.
Sebagai langkah lanjut, Arief meminta manajemen RSUD Benda untuk melakukan inventarisasi kebutuhan secara menyeluruh, mulai dari infrastruktur hingga SDM. Ia berjanji akan mengawal usulan ini ke badan anggaran DPRD, agar bisa dimasukkan dalam prioritas pembiayaan.
Sidak ini menegaskan pentingnya fungsi pengawasan DPRD terhadap realisasi program layanan publik. Arief Wibowo menekankan bahwa RSUD Benda tidak hanya harus berdiri secara fisik, tetapi juga berfungsi penuh untuk melayani masyarakat dengan standar kesehatan yang layak dan manusiawi.
“Saya akan terus kawal agar RSUD Benda segera beroperasi sepenuhnya dan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi warga Kota Tangerang,” tutupnya.
Berdasarkan informasi terakhir dari Dinas Perkim diketahui bahwa perbaikan RSUD Benda saat ini masih menunggu proses tender yang sedang berlangsung.







Arief Wibowo Dewan Pilihan Warga Tangerang
0 Comments