Tangerang (15/03) – Sinergi Komunitas Tangerang dan Karang Taruna RW 07 Perum Angkasa Pura II, Karang Anyar, Neglasari menggelar Diskusi Publik bertema “Islam dan Kebangsaan”, menghadirkan para pemikir dan aktivis sebagai narasumber.

Acara yang digelar sebagai forum intelektual ini menghadirkan Arief Wibowo, Wakil Ketua II DPRD Kota Tangerang, Ketua Umum SEMMI Cabang Tangerang Indri Damayanthi, Ketua Pergerakan Sarinah Kota Tangerang Liani Febrianti, serta akademisi Garry Vebrian.
Dalam diskusi ini, Arief Wibowo menyoroti pentingnya memahami sejarah kebangsaan Indonesia yang erat dengan Islam. Menurutnya, membenturkan Islam dengan kebangsaan adalah langkah yang ahistoris dan kontraproduktif.
“Kalau ada pihak yang berupaya membenturkan Islam dengan kebangsaan, maka sejatinya mereka sedang melemahkan sendi-sendi perjuangan bangsa ini. Sejarah menunjukkan bahwa para tokoh Islam berperan besar dalam membangun negeri ini, mulai dari Cokroaminoto sebagai salah satu pelopor pergerakan di Indonesia dan guru para tokoh pergerakan nasional lintas ideologi seperti, Seperti Soekarno, Semaoen, Muso, Alimin dan Kartosoewirjo” ujar Arief.
Ia juga menyoroti proses sekularisasi yang menggeser nilai-nilai agama dari kehidupan sosial dan politik. Menurutnya, sekularisasi yang dijalankan secara sistematis telah membuat agama seolah hanya terbatas pada ritual, tanpa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita mengalami anomali. Indonesia disebut sebagai bangsa dengan pemeluk Islam terbesar kedua di dunia, namun nilai-nilai Islam justru semakin dipinggirkan dalam berbagai aspek kehidupan. Dulu, bahkan ada upaya membenturkan Pancasila dengan agama,” katanya.
Lebih lanjut, Arief menekankan bahwa Islam dan kebangsaan harus berjalan beriringan. Polarisasi yang terjadi sejak era Orde Baru, menurutnya, telah menghambat pemahaman bahwa Islam sejalan dengan semangat kebangsaan.
“Islam dan kebangsaan itu beriringan dan saling menguatkan. Ketegangan antara negara dan umat Islam hanya akan menguras energi bangsa ini. Kita harus kembali kepada identitas kita, menjadikan Pancasila sebagai ideologi pemersatu, namun tetap mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan,” tambahnya.
Dalam konteks perbaikan budaya dan tata kelola pemerintahan, Arief juga menekankan pentingnya keteladanan dalam kepemimpinan. Ia mencontohkan bahwa jika pejabat dan masyarakat benar-benar memahami nilai ketakwaan, maka tidak perlu ada pengawasan ketat untuk mencegah korupsi.
“Kalau nilai agama benar-benar dipahami, tidak perlu ada CCTV, tidak perlu ada KPK, tidak perlu ada inspektorat. Karena setiap orang sadar betul bahwa dia adalah hamba Allah, dan hamba tidak akan melawan perintah Tuhannya,” jelasnya.
Diskusi ini mendapat sambutan hangat dari peserta yang hadir. Dengan hadirnya berbagai perspektif dari aktivis, akademisi, dan tokoh masyarakat, acara ini menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat sinergi antara Islam dan kebangsaan dalam kehidupan bernegara.
Harapannya, diskusi semacam ini bisa terus digelar untuk menyegarkan pemahaman masyarakat tentang hubungan Islam dan kebangsaan yang harmonis, serta menginspirasi langkah konkret dalam membangun bangsa yang lebih berintegritas dan berkeadilan.
Arief Wibowo Anggota Dewan Pilihan Kita, Warga Kota Tangerang
0 Comments